Mengapa Lirik Lagu “Indonesian Girl” Dibuat dalam Bahasa Inggeris?

Karena bisa.

Told a friend yesterday: happiness is overrated.

I just found out that what I really wanted was just old mundane-routine boring, normal, “ordinary” things.

I just want my day to be boringly predictable.

 

But maybe the problem is, ‘normal’ is becoming more of a rare commodity.

I see more and more people are increasingly obsessed with being happy–whatever that means.

 

I’m beginning to wonder: is there a place for people like me?

people who wants to treat happiness the way they treat a three-dollar piece of cake from a café.

 

I want cake.

But it’s not like I want it to be something I have to have daily.

I guess.

Not everyday.

Nope:

(not everyday!)

So believe me, I was as surprised as a kitty in a bath tub when I said to myself,”Lega. ‘Happy’-nya udahan.”*)

 

I hope that’s not something out of the ordinary.

 

Love,

Gamila

Not That Happy Yet

 

 

*) “(I’m) relieved. The ‘happy’ is over (now).”

PS: I’m not sure about what kitties actually do in a bath tub

Jenuh Dengan Horor Indonesia?

#FreeIdea
 

Yang bakal serem banget di dunia film horor Indonesia yang #kayaknya mulai jenuh ini: Cicak.

 
Bayangkan seramnya:
1. “Kejatohan Cicak”
2. “Cicak Kejepit Pintu Tiga Hari yang lalu”
3. “Cicak di Dalam Box J.Co”
4. “Decak Cicak Kala Masturbasi”
5. “Ekor Cicak Penasaran”
6. “Cicak Tanpa Ekor”
7. “Pertengkaran Cicak di ruang TV”
8. “Yang Kausangka Permen Cicak”
9. “Tai Cicak Basah”
10. “Serangan Anak Cicak”
11. “Rumah Tanpa Cicak”
12. “Legenda Cicak Putih”
 
Demikian selusin usulan saya mengenai ‘cicak’ sebagai tema horor Indonesia.
Silakan ambil ide ini dan jadikan karya terbaik yang bisa kau banggakan pada ibumu.
 
Next:
- “Industri Musik Mulai Melirik Potensi Pada Cicak. Komodo Iri, Tokek Kurang Peduli”
-”Soal Logo Pon: Modo: ‘Saya Rasa Modi Bukan Pasangan Serasi, Hanya Saja Dia Putih’”
-”Gamila Arief: Ibarat Genre, Cicak Itu Pop Klasik, Mudah Diterima Di Masyarakat. Tokek Ibarat Jazz.”
-”Pil Cicak. DIY”
-”Kumpulan Foto Cicak, Sebelum dan Sesudah Ramadhan”
 
 

Ketika Ku Mati

Kepada mereka yang akan melihat kenyataan pada tubuhku

aku memohon maaf dan meminta kesetiakawanan

Karena dalam matiku akan keluar hidup,

dalam hidupku kan kulepaskan yang mati

Kepada mereka yang menaruh dendam dan benci padaku

Lalu kemudian ambillah

Benamkan dalam laut hingga asin kembali air mata

Bagi mereka yang lupa, mari kunjungi taman nada yang berbunga senantiasa

Bagi kau yang berduka, ambillah waktuku,
Agar terasa pelukku

Keluhkan alam yang dengan caranya selalu mengembalikan kita pada sakit

Namun sebutkanlah kalimat-kalimat syukurmu agar menggelinding jawaban ke atas pangkuanmu.

Rentangan rindu akan menggantikan sepi-sepimu

Ini amat perih
Bagai udara penuh jarum
Yang terpaksa kuhirup

Ketika sampai jarum-jarum itu ke dalam tubuhku,
Ia mengalir mengendap di ujung-ujung jariku

Namun itu saja tidak cukup
Karena sekali nafas bukan hidup

Entah apa yang kuurapkan padamu
Kata-kata robekan kertas

Kutitipkan segala kelemahanku padamu
Lalu suatu hari kita sebut itu cinta

Makin Pucat Makin Sakit

peringatan: 1. Anda merasa sudah dewasa tetapi belum 17 tahun? Sebaiknya Anda sudah 17 tahun, jika belum, kembalilah ke laman ini dalam keadaan tua.
2. Hal di bawah ini bukan wacana, ajakan berdebat=kentut
3. Bacalah dengan niat tertawa

Makin Putih Makin Pucat Makin Sakit

Saya nggak suka pria yg terlalu putih.

Bukan soal ras diskriminasi. Ini sekadar selera. (Btw,diskriminasi ras..Menurut gw sesuatu yang mungkin nggak akan ada kalau di dunia ini nggak ada orang (berkulit) putih) Cih!

Saya bukan orang yang menganggap buruk baik orang berdasar terang gelap kulitnya. Tapi coba perhatikan, semakin putih kulit suatu ras, semakin dekat suku bangsa tersebut dengan budaya penyiksaan.

Teori saya, semakin putih, semakin pucat kulit manusia, semakin tinggi ketertarikannya dengan dunia siksa.

Pernah dengar lynching?
S&M? 

Kembalilah ke zaman kegelapan, zaman dewa-dewa berkuasa.. 
Lalu bayangkan alat2 siksa kerajaan … Kerajaan orang2 bule punya satu ruangan hanya untuk menyiksa badan manusia. Sejuta cara menyiksa narapidana.

Pernah denger Guillotin? (*terdengar :”Off with your head!” berlogat Perancis dari kartun Tom and Jerry)

Pembunuh berantai.. (You can’t imagine a black dude getting arrested for being a serial-psycho killer.)

Nazi?
Apartheid?
Lord Voldemort?

Di Arab…rajam, potong tangan, potong kaki, potong ujungnya penis..( Padahal mereka bisa aja nyiksa dengan potong rambut atau waxing bulu.. Tapi sepertinya kurang menarik..)

Orang Cina jaman dulu.. potong penis –kayak Ceng Ho yg dipotong penisnya.. (Coba google eunuch)

I mean.. Those things are…So white, so sick.
Nyiksa2 gitu. Kegiatan yang “putih banget”, ah!

Dipendem2 rasa sakitnya, dikluarin pelan2. Seram.

Sudah cukup dewasa untuk nonton bokep? Nggak perlu deh nonton bokep bule, bokep jepang,… Keji gitu!
So.. anti humanity. Inhumane. 

Saya senang dengan hal2 yang dilakukan orang2 yang warna kulitnya seperti… lebih seperti saya: beige-tembaga-tan gimana gitu.
Hhaha!

Orang warna kulit tembaga seperti saya ga akan melakukan hal2 seram di atas (Kecuali terpaksaaa banget.) karena model-model kami lebih senang berfikir sambil tiduran.

Saking pintarnya berfikir, kadang kurang motivasi dan sering berharap bisa memindahkan barang dengan kekuatan pikiran.
Tapi ngomong-ngomong soal mikir..

Saya pikir, mungkin anggota kepolisian harusnya diisi orang2 kulit putih pucat, terus seragamnya putih! Serem pasti. Ingat pocong?

Mereka yang pikir putih itu suci, murni, lambang kebaikan, musti evaluasi keyakinan. Belakangan ini semua villain berwarna putih (Nigel-Rio, Lord Shen-Kung Fu Panda 2, Tighten-Megamind, terus…Siapa itu ibu2 di film Narnia? Ya itulah..) pokoknya gitu deh. Dengan kata lain, tidak ada jagoan memakai seragam (atau berkesan) putih. Kecuali mungkin Hanoman. Zzz

Any.. way… Do not get me wrong.
Kelestarian orang2 kulit terang, putih, pucat, JUSTERU perlu dipertahankan. (Kan perlu juga ada orang2 yg demen nyiksa. Supaya kegiatan peradilan di negara kita ini bisa “terasa” adilnya)

Pemerkosa digantung dan disayat sampai mati.
Koruptor dimasukin ruang bergas racun.
Penipu dipotong genitalnya
Pencuri dicambuk
Pembunuh diborgol sambil dipukuli, cabut kukunya.
Dan pemimpin negara yang busuk dipenggal kepalanya.

***

Semoga arwah Moammar Ghadafi, Jong-il Kim, dan Presiden Suharto ikut tertawa mendengar ide saya ini.

Wassalam

U might wanna clik em:
1. http://en.m.wikipedia.org/wiki/Penis_removal
2. http://en.m.wikipedia.org/wiki/Megamind
3. http://en.m.wikipedia.org/wiki/Joseph-Ignace_Guillotin
4. http://en.m.wikipedia.org/wiki/Eunuch

Orang Dewasa: Tidakkah Mereka Membingungkan?

Tidakkah Orang Dewasa Membingungkan?

Orang dewasa adalah alasan saya tidak mau jadi orang dewasa. 

Orang dewasa harus perhatikan penggunaan kalimat:”Anak-anak,teruslah bermimpi!”»Sungguh perintah yg membingungkan!

Tidakkah bermimpi membutuhkan banyak tidur? 

Alfa,Beta,Gamma,Theta?Sedemikian banyak gelombang yg harus diselami sebelum akhirnya bisa bermimpi. Dan kalian orang dewasa akan mengacaukan di tengah pesta gelombang tersebut dengan alasan: “Ayo, nanti terlambat!”

Tidakkah mereka tahu kalau terlambat massal akan menyebabkan ketidakterlambatan? 

Baru sedetik usai mereka perintahkan agar terus bermimpi, orang dewasa datang ke sekolah dengan nyanyian tentang betapa pentingnya: bangun. “Bangun Pemudi-Pemuda”, “Bangun Hari Sudah Siang” (memang kenapa kalau siang?), “Oh Mr.Sun”… Belum lagi hari-hari khusus yang sulit dilakukan sambil tidur:Hari Kebangkitan Nasional, Hari Keluarga, Car Free Day,Sumpah Pemuda, …

Orang dewasa tak pernah patah semangat membangunkan anak2 setiap pagi, membuat kita berfikir, ada yg salah dengan masa kecil mereka. Di mana weekend yang kalian banggakan itu? Jumat? Rabu? Siapa bilang kami harus bangun?

Sepertinya mereka dendam dengan kita yg sedang “terus bermimpi”. Sesuatu yang mereka gembar-gemborkan sendiri. Sesuatu yang mereka pesankan ketika mereka sedang sukses berkarir. Karir yang didongkrak mafia. Tapi siapa peduli.

Orang dewasa nampak begitu tahu segalanya tetapi  tidak bisa membuat keputusan dan menjadikan kita, anak-anak, korban. Wahai orang dewasa: “apakah aku terlihat seperti negara dunia ke-tiga?”

Tetapi mungkin juga ini semua salah kita anak-anak. We are from the kill joy club. Tidak ada bayi yang senang tidur. Setiap dua jam, bayi (apalagi yg baru lahir) menangis dan memupuskan harapan tidur orang tuanya.

Tidur seperti bayi selama ini salah pemaknaan. Tidur seperti bayi bukanlah tidur lelap 10 jam, tidur seperti bayi adalah:”aku yang bangunin kalian, bukan kalian yg bangunin aku, good night!”

Lalu orang dewasa berkata,”kita tidak akan diperintah oleh makhluk lembut wangi tak berdaya ini! Mari bikin sesuatu agar mereka tidur sesuai keinginan kita! Aku suka begadang tetapi dengan alasan selain bayi!”

…dan berhasil! 5, 10, 15 tahun, anak-anak membesar dengan keyakinan: tidur itu ada gunanya. Dan anak-anak mulai menuruti orang dewasa di sekitarnya, memberikan kesempatan agar “orang dewasa” bisa mendidik anak-anak agar siap menjadi orang dewasa berikutnya. 

Mengapa harus siap? Entah. Hmm..Karena orang dewasa itu tergantikan?-..-

Orang dewasa meyakini anak-anak tidak bisa mengatur dunia. Padahal mereka sendiri sadar, mungkin
Sebaiknya anak-anak saja yg menjadi pemimpin. Lihat budaya trulku! Penceramah cilik! Penyanyi cilik! Wow. Mereka pemimpin ekonomi dan sosial yang tidak bisa memegang telinga sendiri jika harus melintasi ubun-ubunnya sendiri! Aneh tapi nyata!

Ada juga,sih, yg melihat peluang ini: beberapa orang dewasa meyakinkan anak-anak u/ gantikan tugas orang dewasa karena anak-anak akan dengan tulus tidak minta bayaran. (Yiha! Mereka tak tahu konsep uang!) tetapi sebagian dari org dewasa tipe ini masuk penjara.

Mungkin orang dewasa lelah dan ingin segera ke tahap berikutnya,tahap yang dijanjikan org2 dewasa sebelum mereka: pensiun.

Sebagian dari kalimat,”cepat besar,ya!” mengandung:”Aku bosan, capek, sekarang giliranku yang pakai popok!” sebagian besar dari orang dewasa tipe ini punya asuransi.

Orang dewasa selalu menentukan apa yg harus dipikirkan anak-anak, sesuatu mengenai masa depan yang suram,sambil sesekali mengatakan:”masa kanak-kanak adalah masa terindah.”

Pasti ada yg salah dengan orang tua mereka.

Anak-anak tidak lahir dengan keinginan untuk menciptakan ras diskriminasi,’kan? Anak-anak lelaki tidak keluar dari ranjangnya dan berkata: “aku ingin rendahkan martabat perempuan!” ‘kan? Tidak ada anak yang berkata:”aku tidak mau bergandengan tangan denganmu,miskin!”. Tidak kecuali mak bapaknya ngajarin gituan.

Itu semua kerjaan orang dewasa. Peperangan, ekonomi, penyiksaan, sampah yang tidak didaur ulang, semua karena orang dewasa.

Kejahatan tidak datang dari jantung kecil yang berdenyut 100kali per 30 detik. Bahkan orang dewasa juga yang habiskan biaya ratusan Dolar untuk meyakinkan: anak setan itu ada!
(Tapi memang saya bukan bule. Konon anak kulit putih cenderung berperangai seram. Apapun itu maksudnya).

Dan kematian selalu menyebalkan buat anak-anak. Anak-anak selalu diharapkan jadi pelipur lara. Sementara kami tak mengerti apa yang harus disedihi.

Tidak ada anak-anak yg benar mengerti apa makna tangis dari orang dewasa.Apakah itu tangis:”Bangsat! Mengapa mati duluan dan meninggalkan aku dengan semua kesulitan ini?” atau tangis:”Seharusnya aku duluan yang mati!”
…semua terdengar sama.

Ingat kan? Anak-anak punya intuisi yg kuat? Di dalam acara penguburan jenazah, anak-anak tidak menangis karena mereka tahu ini untuk yang terbaik. 

Tidak, anak-anak tidak berpikiran jahat seperti,”Satu lagi orang dewasa berkurang.” no no
No. HAHAHA. No.

Walau mungkin memang banyak orang dewasa yang seumur hidupnya merasa dirinya sudah berada di jalan yg benar dan memandang rendah orang yang tak sebenar dirinya.

Orang dewasa memberi banyak, lebih banyak dari yang anak-anak harapkan. (Mainan,teman,cara bicara, logat,…) 

Lalu, di tengah jalan, setelah memberi tahu bagaimana caranya hidup,orang dewasa mengajak kita bicara dari hati ke hati: “tentukanlah nasibmu sendiri,Nak.”
“Apaaa? That’s it?” kalian menyerah hanya gara-gara melihat kisah hidup Michael Jackson? Tidaaak! Aku ingin selalu dalam bimbinganmuuu! Aku juga ingin punya gedung hasil dari penampilanku bernyanyiiii! Aku berjanji akan memberimu pensiuuun! Aku tak mau tentukan nasib sendiri!
***

Tetapi manusia (yang sejak kecilnya selalu di-misinformed oleh pendahulunya ini) , dengan izin Allah, akhirnya membesar juga. (Please, jangan salahkan Allah kalau ada yg tumbuh pendek atau tidak sesuai harapan)

Dunia serasa lebih muat dengan kedewasaan yang dimiliki mantan anak-anak. (sampai tulisan ini dimuat,belum terdeteksi manusia hasil kloningan, jadi mari menganggap tidak ada ‘mantan anak’, adanya ‘mantan anak-anak’ dgn asumsi semua orang dewasa adalah anak-nya sepasang orang)

Seorang anak yang telah mendewasa, sudah pernah ditampar,  sudah lulus sekolah, sudah pernah bertualang, dan semoga, sudah pernah jadi anak-anak.

Setelah masuk ke “Dunia Dewasa”, setiap anak masuk dengan rasa bersalah sebesar koper:
1. Bayarlah kebaikan orang tuamu. Tak percaya mereka baik? Ini tagihannya
2. Apapun yang diajarkan di sekolah soal keadilan, ia tetap bapakmu.
3. Jangan lampiaskan amarahmu pada cucu kami
4. Oya, ini daftar dosa besar, di dalamnya ada yg membahas soal kami-orang dewasa- Baca, deh.
5. Jangan jadi seperti yang lain. Cukup! Jangan meniru orang dewasa lain. Tapi tirulah pahlawan dan kepahlawanannya. Be yourself, but not be yourself for too long. We might not like it.

Tidak, tidak ada orang tua normal yang menanamkan rasa bersalah pada anaknya sedemikian rupa. Tetapi seperti itulah kedewasaan melanda hidup manusia.

Anak-anak bisa memasuki kedewasaan lalu membuka kopernya dan menyusun apa yang diperlukannya (biasanya ini kelas anak-anak yang lebih beruntung dan berhasil), atau melempar kopernya ke pinggir jalan dan mengenai sapi yang sedang merumput(ini sisanya).

Semoga anak saya tidak membaca tulisan ini.

N.B.: kekerasan pada anak-anak tidak mengenal gender maupun strata sosial.Kita orang dewasa harus melindungi anak-anak,di mana pun, kapan pun. Tulisan ini bukan tulisan ilmiah, bukan pula konsumsi anak-anak apalagi orang dewasa yang kekanak-kanakan.

Sila Pertama

Pandji pulang dari sebuah acara kumpul2 pemuda. Ceritanya sih gitu.. Pernah denger Obsat? Nah. 
Saya pasang muka bertekuk sembilan karena janji pulang cepetnya nggak bisa ditepatin.
Tapi agaknya penasaran juga saya sama Obsat yang satu ini. (Lebih tepatnya, penasaran, apa yang bikin si mas pulang kemaleman ;P)

Malam itu Pandji kebagian jadi pembicara mengenai Pancasila. Sesuai tanggal hari itu, 1 Juni 2011. Tapi rupanya ada satu orang dalam acara itu yang skeptis dengan Pancasila. Skeptis itu apa, saya juga nggak yakin, tapi kok rasanya cocok disimpulkan begitu.

Menurut Pandji, pemuda ini menceritakan dengan wajah murung, betapa Sila I Pancasila tidak relevan dengan kepercayaan sebagian penduduknya.

Menurut pemuda itu, ada suku2 di Indonesia yang memiliki tiga Tuhan bahkan lebih dalam kepercayaaannya. “Ketuhanan Yang Maha Esa”? Nggak nyambung buat Indonesia. Kata dia.

Menurutnya lagi, atas nama Pancasila, orang2 berseragam bertuliskan Pancasila bisa melakukan kekerasan fisik dan mental pada penduduk.

Menurutnya, Pancasila itu “sakti” kalau ada darah yang dikorbankan. Lihat Lobang Buaya. Kata Pandji kata dia. (jadi kalau salah info, salahin siapa udah tau ya-.-)

Iya,sih. Saya sempat merasa ia benar. Tapi sayang saya kemudian berfikir.

Sila Pertama Pancasila bisa jadi salah ia tafsirkan. Saya percaya Pancasila bukan buatan Tuhan sehingga pasti cacat. Tetapi ia adalah pembimbing, pengarah, ‘guide-line’.
Dan seperti pada umumnya petunjuk, kiranya bijak untuk melonggarkan ruang untuk penyesuaian dan interpretasi.

Tekanan darah saya mulai naik ke arah normal (tensimeter untuk saya cenderung 90/110.. Atau 110/90 ya? Ah..ngaco deh pokoknya) karena saya mulai bersemangat untuk kecewa.

Saya kecewa dengan pemuda itu. Siapapun ia, saya sedih mendengarnya berkeluh demikian.

Ini argumen saya:

Pernah dengar kata ‘kemanusiaan’? 
Ada kata kemanusiaan, kebinatangan, dan logis kalau ada kata ketuhanan.

Kali ini saya tidak akan memulai dari kamus atau mengacu pada buku, atau mengutip sejarah yang bisa di-google. Berpijaklah pada saya sebagai orang biasa yang kemungkinan besar sangat bodoh. Saya bukan anak sastra apalagi bahasa, tapi saya kira begini:

Sila pertama membebaskan negara ini dari keinginan segelintir orang (yang mengklaim didukung massa mayoritas). Silakan buka buku sejarah dan periksa dilema apa yang dihadapi BPUPKI (http://id.wikipedia.org/wiki/Badan_Penyelidik_Usaha_Persiapan_Kemerdekaan_Indonesia)

Ada segelintir orang yang mencoba memelintir logika: karena Indonesia mayoritas muslim, maka negara ini harus menjalani syariat Islam.

Sungguh puntir kemuntir bagai petir di pagi cerah kalau sampai hal ini yang menjadi Sila I Pancasila.

“Ketuhanan YME” meniadakan keraguan dan kelemahan otak macam itu.

Seseorang yang berjiwa pemimpin hari itu dibimbing Tuhan untuk melihat kecerahan.

Dengan memilih kata ‘ketuhanan’ alih-alih ‘Tuhan’, (seharusnya) jelas bahwa yang dimaksud adalah: sifat dari Tuhan. Bukan Tuhan yang satu untuk semua. Melainkan Tuhan dari diri masing2.

Coba tahan sedikit kecepatan membaca Anda dan bayangkan, hai! Memang ada berbagai versi Tuhan dalam diri setiap manusia. 

Tuhan saya, Tuhan kamu, Tuhan dia, masing-masing masuk katagori Tuhan karena memiliki kesamaan sifat, kesamaan makna, sama, jadi satu benang merah yang kemudian mendefinisikan apa dan siapa Tuhan itu.

Sifat itulah yang ada juga dalam diri setiap manusia. 
Dan sifat itu mendarah daging hingga pada satu titik menyerap menjadi esa.

Artinya begini, pada satu titik, kepala saya, dia, dan Anda berhasil memotret sifat yang sama dari masing-masing persepsi. Dan pada akhirnya, sifat itu menggelembung menjadi sebuah kesatuan; satu yang menjadi kesimpulan; siapapun Dia yang dimaksud, Dia itu sama-sama Tuhan.

Masih bingung? Semoga tidak.

Intinya, bukan sibuk pada menyamakan persepsi bentuk Tuhan seperti apa, karena masing2 individu sudah punya gambaran sendiri siapa dan bagaimana Tuhan itu. Tetapi lebih pada meyakinkan: percaya bahwa kita semua percaya pada Tuhan. 
Bukan uang, bukan manusia. Percaya ada kekuasaan yang jauh lebih besar dan kita ada di bawahNya.

Semoga jelas. 

Dan mengenai bagaimana segerombolan laki-laki berseragam berlindung “di bawah rok” Pancasila untuk kemudian berlaku destruktif, oh, come ooon, sudah pastilah mereka yang brengsek. Bukan sila satu, dua, tiga, empat, apalagi lima.

Saya menghindari kegiatan mengecilkan kerja keras para kaum intelektual pendiri bangsa ini. 

Ingat, ‘bangsa’ itu beraneka, Bangsa Arab,Bangsa Cina, Bangsa Mesir, tetapi kita, kita berhasil menciptakan (kalau bukan ngarang-ngarang di lautan) bangsa sendiri berkat para pahlawan yang kalau boleh kusebut negarawan itu. Aneh, bangsa kok mukanya beda-beda. Kulitnya warna warni, logatnya lain-lain,bentuk hidungnya tidak ada yang sama. Tapi nyata. Bangsa Indonesia itu ada. Bangga,ah! Bangga dong.

Walau saya masih memikirkan, kalau masuk industri perfilman Hollywood, saya akan mewakili bangsa apa. Susah deh cari peran buat negara yang restorannya belum terkenal. Restoran Indonesia? Nyeeah.. Apa itu? Coba kalau Restoran Jepang, Cina, Thailand,.. Lho kok jadi lapar :/

N.B: saya hafal Pancasila,lho! :D

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.