Suatu Siang

Lelaki paruh baya, plontos, kulitnya hitam gosong. Memang begitu harusnya tampilan kulit laki-laki yang tiap hari mencari uang di parkiran Terminal Rawamangun. Badan berisi, bukan gembul. Ramah tamahnya terlatih karena adalah bagian dari pekerjaan.
Bungkuk,tunduk,senyum,tetapi tidak mau diremehkan.

“Lapangan parkir Kantor Dinas Perhubungan Rawamangun,” kira-kira itulah jawabannya jika muncul pertanyaan akan lokasi pekerjaannya.

Empat puluh menit di luar rasanya terlalu lama. Ibu saya mengenakan pashmina tapi sepertinya kami berdua tidak berguna di sana. Sudah selusin,”Dik,mau ke mana,” yang ditujukan pada saya. Lagipula angin terlalu kencang, dan hey, lihat! Ternyata dari dalam mobil pun, arus Bis Kramat Jati bisa terlihat.

“Boleh saya pindah parkir (ke tempat teduh),Pak?”ujar saya. Seolah memberi pertanyaan padahal pernyataan.

Dengan senyum lebar, ia menengok ke arah saya, menunjukkan setuju, tapi senyumnya juga menyiratkan,”Mohon tunggu, saya tengah menerima uang dari pengemudi motor bebek di depan saya,be right with you.”

Jam sebelas siang bukan kepalang, saya harus pergi, tapi kerabat yang ditunggu ibu saya belum kunjung tiba.
“Pak,di mana tempat duduk yang teduh? Kasihan ibu saya kena angin di sana,” merujuk pada tempat duduk terminal yang cocok untuk pilek, campak, toxo, atau sekadar tes antihistamin dalam tubuh.

“Oh,mau duduk?” jawaban tanpa solusi. Sama seperti tadi, saya hanya mendapat perhatian punggung dan wajah dia karena tangannya sibuk mengurus arus lalu lintas parkiran. Tapi senyumnya lebar, sih, giginya putih.

“Nggak usaah!” ibu saya mengejutkan. Setengah marah setengah malu meminta saya batalkan request “sok asik” saya itu.

Ya sudah, saya sudah harus berangkat. Hand phone ketinggalan,anak musti dijemput, belum sarapan, too much pressure. Dengan berat hati saya meninggalkan mama di terminal. (Bravo, Mila! Semoga cicak mati di garasi tadi pagi tidak berarti apa-apa.)

Gigi satu, perlahan seperti layaknya profesional, menyamakan kecepatan dengan langkah kaki ibu saya kembali ke ruang tunggu. Ruang; bukan kamar. Bodohnya saya tidak bawa kamera. 

“Bu,”cegat seorang lelaki agak mengagetkan.
“Oh, ambil karcis di luar, serahkan kertasnya di sini,ya,” asumsi saya dalam hati.
Saya senang bicara soal karcis karena saya tidak seperti Gamila 2002, Gamila yang ini ingat di mana naro karcis.

Tidak terhibur dengan karcis saya,lelaki (yang entah dia pendek atau berdiri di tempat rendah, tapi hampir sulit merasakan kehadirannya) itu merajuk,”bayar peron dulu,Bu, dua ribu,” ia tidak mau menatap mata saya. 

“Mana karcisnya?”minta saya demi rasa keadilan. (Selain memang saya orangnya rese.)
Laki-laki tadi tidak menjawab, malah langsung buang muka untuk memanggil orang lain,”Lay! Minta karcis!” 

I have a bad feeling. Perasaan yang muncul saat ada yang bohong.

Datanglah lelaki botak tadi. Kalau ada honoris causa untuk dunia perparkiran, mungkin ia salah satu laureate-nya.

“Bayarnya dua ribu,Mbak,”gerak mulutnya dibuat jelas, tetap dengan senyum  a la Polo pelawak. 

I just had to ask,”karcisnya mana?”

“Nggak ada,” jawab Pak Botak disertai satu detik mangap sisa huruf ‘a’ dari kata terakhir.

“Berarti ini ilegal dong?” dua ribu di tangan kanan saya sedang menunggu. Semoga sedikit senyum saya menunjukkan saya bukan (lagi) perempuan judes. 

(**Saya tidak menyangka bisa hidup di zaman di mana dua uang seribuan dijadikan satu lembar dua ribu rupiah.)

Anyway, oleh Pak Botak, uang itu diambil lalu dilemparkan ke dalam mobil saya. Jatuh di area kaki kanan saya. Matanya menatap AC di kanan saya.

Glad to see someone with dignity. 

(Buat yang penasaran, ibu saya pulang selamat naik taksi ke rumahnya bersama kerabat yang ditunggu-tunggu tersebut. Kramat Jati telat satu setengah jam dari Malang. Tidak ada ciri khusus dari bis, tetapi sms dari keponakan si kerabat berupa nomor plat bis ybs ternyata amat membantu)

  1. Blogwalking kesini habis baca tweet-nya Pandji.
    Beautiful voice…. deep writing…
    Baru tau seorang gamilla multitalented , ga kalah ma panji:p
    Keep writing!! (and singing)

  2. Thak you,Mas🙂 means a lot😉

  3. suka dgn tulisan yg ini : Saya tidak
    menyangka bisa
    hidup di zaman
    di mana dua
    uang seribuan
    dijadikan satu
    lembar dua ribu
    rupiah .😀

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: