Sila Pertama

Pandji pulang dari sebuah acara kumpul2 pemuda. Ceritanya sih gitu.. Pernah denger Obsat? Nah. 
Saya pasang muka bertekuk sembilan karena janji pulang cepetnya nggak bisa ditepatin.
Tapi agaknya penasaran juga saya sama Obsat yang satu ini. (Lebih tepatnya, penasaran, apa yang bikin si mas pulang kemaleman ;P)

Malam itu Pandji kebagian jadi pembicara mengenai Pancasila. Sesuai tanggal hari itu, 1 Juni 2011. Tapi rupanya ada satu orang dalam acara itu yang skeptis dengan Pancasila. Skeptis itu apa, saya juga nggak yakin, tapi kok rasanya cocok disimpulkan begitu.

Menurut Pandji, pemuda ini menceritakan dengan wajah murung, betapa Sila I Pancasila tidak relevan dengan kepercayaan sebagian penduduknya.

Menurut pemuda itu, ada suku2 di Indonesia yang memiliki tiga Tuhan bahkan lebih dalam kepercayaaannya. “Ketuhanan Yang Maha Esa”? Nggak nyambung buat Indonesia. Kata dia.

Menurutnya lagi, atas nama Pancasila, orang2 berseragam bertuliskan Pancasila bisa melakukan kekerasan fisik dan mental pada penduduk.

Menurutnya, Pancasila itu “sakti” kalau ada darah yang dikorbankan. Lihat Lobang Buaya. Kata Pandji kata dia. (jadi kalau salah info, salahin siapa udah tau ya-.-)

Iya,sih. Saya sempat merasa ia benar. Tapi sayang saya kemudian berfikir.

Sila Pertama Pancasila bisa jadi salah ia tafsirkan. Saya percaya Pancasila bukan buatan Tuhan sehingga pasti cacat. Tetapi ia adalah pembimbing, pengarah, ‘guide-line’.
Dan seperti pada umumnya petunjuk, kiranya bijak untuk melonggarkan ruang untuk penyesuaian dan interpretasi.

Tekanan darah saya mulai naik ke arah normal (tensimeter untuk saya cenderung 90/110.. Atau 110/90 ya? Ah..ngaco deh pokoknya) karena saya mulai bersemangat untuk kecewa.

Saya kecewa dengan pemuda itu. Siapapun ia, saya sedih mendengarnya berkeluh demikian.

Ini argumen saya:

Pernah dengar kata ‘kemanusiaan’? 
Ada kata kemanusiaan, kebinatangan, dan logis kalau ada kata ketuhanan.

Kali ini saya tidak akan memulai dari kamus atau mengacu pada buku, atau mengutip sejarah yang bisa di-google. Berpijaklah pada saya sebagai orang biasa yang kemungkinan besar sangat bodoh. Saya bukan anak sastra apalagi bahasa, tapi saya kira begini:

Sila pertama membebaskan negara ini dari keinginan segelintir orang (yang mengklaim didukung massa mayoritas). Silakan buka buku sejarah dan periksa dilema apa yang dihadapi BPUPKI (http://id.wikipedia.org/wiki/Badan_Penyelidik_Usaha_Persiapan_Kemerdekaan_Indonesia)

Ada segelintir orang yang mencoba memelintir logika: karena Indonesia mayoritas muslim, maka negara ini harus menjalani syariat Islam.

Sungguh puntir kemuntir bagai petir di pagi cerah kalau sampai hal ini yang menjadi Sila I Pancasila.

“Ketuhanan YME” meniadakan keraguan dan kelemahan otak macam itu.

Seseorang yang berjiwa pemimpin hari itu dibimbing Tuhan untuk melihat kecerahan.

Dengan memilih kata ‘ketuhanan’ alih-alih ‘Tuhan’, (seharusnya) jelas bahwa yang dimaksud adalah: sifat dari Tuhan. Bukan Tuhan yang satu untuk semua. Melainkan Tuhan dari diri masing2.

Coba tahan sedikit kecepatan membaca Anda dan bayangkan, hai! Memang ada berbagai versi Tuhan dalam diri setiap manusia. 

Tuhan saya, Tuhan kamu, Tuhan dia, masing-masing masuk katagori Tuhan karena memiliki kesamaan sifat, kesamaan makna, sama, jadi satu benang merah yang kemudian mendefinisikan apa dan siapa Tuhan itu.

Sifat itulah yang ada juga dalam diri setiap manusia. 
Dan sifat itu mendarah daging hingga pada satu titik menyerap menjadi esa.

Artinya begini, pada satu titik, kepala saya, dia, dan Anda berhasil memotret sifat yang sama dari masing-masing persepsi. Dan pada akhirnya, sifat itu menggelembung menjadi sebuah kesatuan; satu yang menjadi kesimpulan; siapapun Dia yang dimaksud, Dia itu sama-sama Tuhan.

Masih bingung? Semoga tidak.

Intinya, bukan sibuk pada menyamakan persepsi bentuk Tuhan seperti apa, karena masing2 individu sudah punya gambaran sendiri siapa dan bagaimana Tuhan itu. Tetapi lebih pada meyakinkan: percaya bahwa kita semua percaya pada Tuhan. 
Bukan uang, bukan manusia. Percaya ada kekuasaan yang jauh lebih besar dan kita ada di bawahNya.

Semoga jelas. 

Dan mengenai bagaimana segerombolan laki-laki berseragam berlindung “di bawah rok” Pancasila untuk kemudian berlaku destruktif, oh, come ooon, sudah pastilah mereka yang brengsek. Bukan sila satu, dua, tiga, empat, apalagi lima.

Saya menghindari kegiatan mengecilkan kerja keras para kaum intelektual pendiri bangsa ini. 

Ingat, ‘bangsa’ itu beraneka, Bangsa Arab,Bangsa Cina, Bangsa Mesir, tetapi kita, kita berhasil menciptakan (kalau bukan ngarang-ngarang di lautan) bangsa sendiri berkat para pahlawan yang kalau boleh kusebut negarawan itu. Aneh, bangsa kok mukanya beda-beda. Kulitnya warna warni, logatnya lain-lain,bentuk hidungnya tidak ada yang sama. Tapi nyata. Bangsa Indonesia itu ada. Bangga,ah! Bangga dong.

Walau saya masih memikirkan, kalau masuk industri perfilman Hollywood, saya akan mewakili bangsa apa. Susah deh cari peran buat negara yang restorannya belum terkenal. Restoran Indonesia? Nyeeah.. Apa itu? Coba kalau Restoran Jepang, Cina, Thailand,.. Lho kok jadi lapar:/

N.B: saya hafal Pancasila,lho!😀

    • Eko Hermiyanto
    • June 4th, 2011

    Ketuhanan yang maha esa itu sendiri sering disalah artikan bahwa Tuhan itu satu. Kita harus ingat bahwa kata esa itu bukanlah berarti satu, tetapi menyeleluruh atau meliputi segalanya.

    Arti daripada kata satu atau tunggal itu adalah eka.

    Jadi, jika kita mengatakan Tuhan itu satu, maka yang benar bukanlah Tuhan maha esa tetapi Tuhan maha eka.

  1. Tapi kalo nilai-nilai dan sifat tuhan itu yang diutamakan, kenapa di KTP harus dicantumin agama kita ya? apa hubungannya dong ya? #UdahAh

  2. Masih byk yg lebih suka formalitas belaka, bukan esensi. Itu masalahnya.

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: