Ketika Ku Mati

Kepada mereka yang akan melihat kenyataan pada tubuhku

aku memohon maaf dan meminta kesetiakawanan

Karena dalam matiku akan keluar hidup,

dalam hidupku kan kulepaskan yang mati

Kepada mereka yang menaruh dendam dan benci padaku

Lalu kemudian ambillah

Benamkan dalam laut hingga asin kembali air mata

Bagi mereka yang lupa, mari kunjungi taman nada yang berbunga senantiasa

Bagi kau yang berduka, ambillah waktuku,
Agar terasa pelukku

Keluhkan alam yang dengan caranya selalu mengembalikan kita pada sakit

Namun sebutkanlah kalimat-kalimat syukurmu agar menggelinding jawaban ke atas pangkuanmu.

Rentangan rindu akan menggantikan sepi-sepimu

Ini amat perih
Bagai udara penuh jarum
Yang terpaksa kuhirup

Ketika sampai jarum-jarum itu ke dalam tubuhku,
Ia mengalir mengendap di ujung-ujung jariku

Namun itu saja tidak cukup
Karena sekali nafas bukan hidup

Entah apa yang kuurapkan padamu
Kata-kata robekan kertas

Kutitipkan segala kelemahanku padamu
Lalu suatu hari kita sebut itu cinta

  1. Agaknya sudah mendesak untuk menulis di sini. Akhirnya tertera juga satu-dua rangkaian kata. Betul, memang alurnya serampangan. Namun kehadirannya semoga jadi pelipur lara

    • eka_sens
    • November 17th, 2012

    ini sih masuk golongan putih banget hahaha.. Dan seputih apapun, masih besar kemungkinan buat sayang anak.

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: